Showing posts with label ebook. Show all posts
Showing posts with label ebook. Show all posts

Tanaaqudhat al-Albaniy al-Waadhihaat Jilid 1-3


SYEIKH SAQQAF DALAM BUKUNYA ‘TANAQUDHAT ALBANI WADHIHAH TELAH MENJELASKAN 1200 KESALAHAN ALBANI DALAM MENSHAHIHKAN DAN MENDHAIFKAN SEBUAH HADIS. WALHASIL, ‘KREDIBITAS’ ALBANI SEBAGAI MUHAQIQ HADIS (PENELITI HADIS) MASIH DIPERTANYAKAN.
Garis besar kesalahannya :
  • a. Menilai derajad suatu hadis sahih dalam bukunya yg A, tapi menilainya dhaif pada bukunya yg B.
  • b. Menilai seorang rawi tsiqoh dalam bukunya yang A, tapi menilainya lemah pada bukunya yang B.
  • c. Mengatakan ttg suatu hadis : “saya tidak mengetahui sanadnya” padahal sanadnya ada dalam salah satu kutubusshitoh,
  • d. Mendhaifkan beberapa hadis di Sahih Bukhari dan Muslim yang ijma’ diterima kesahihannya oleh mayoritas ulama hadis.
Sebagai renungan : Imam Syafii hafal lebih dari 300.000 hadis, Imam Bukhari hafal sekitar 600.000 hadis, Imam Hanbali hafal sekitar 1 juta hadis. Disamping hafal sanad dan matannya, mereka yg masa hidupnya lebih dekat dengan masa Nabi (abad 4 H) mengetahui pula keadaan rawi-rawinya.
كتاب: تناقضات الالباني الواضحات 
تأليف: السيد حسن بن علي السقاف
Silahkan Download Ketiga Seri Bukunya:
Jilid 1 silahkan download di sini
Jilid 2 silahkan download di sini
Jilid 3 silahkan download di sini

Kamus Caci Maki al-Albani (Qamus Syataim al-Albani)



Judul : Qamus Syata’im al-Albani
Pengarang : Sayyid Hasan bin Ali As-Segaf
Penerbit : دار الامام النووي
Bahasa : Arab
Tebal : 206 halaman

Terlalu banyak kalimat cacian, hinaan, dan sumpah serapah yang dilontarkan Muhammad Nashiruddin al-Albani kepada para ulama terdahulu dan zaman sekarang, sehingga tidak terhitung lagi jumlahnya saking banyaknya.  Sampai-sampai ulama asal Yordania, Syaikh Hasan bin Ali As-Segaf merangkum cercaan dan cacian mulut kotor al-Albani dalam sebuah buku berjudul Qamus Syata’im al-Albani (Kamus Caci Maki al-Albani). Buku setebal 206 halaman ini berisi tentang caci-maki al-Albani kepada para ulama terdahulu maupun ulama kontemporer.


Albani telah menghina dan mencaci maki para ulama dengan ungkapan-ungkapan yang tidak pantas dan tidak layak, beberapa diantaranya adalah:
  • - himar khassaf (keledai dungu)
  • - waqah (tidak punya rasa malu)
  • - syiddatu humqih (sangat tolol!)
  • - dhahalatu aqlih (sesat otaknya)
  • - istifhalu jahlil (ketololannya amat sangat!)
  • - jahul (orang tolol!)
  • - mubtadi’ (ahli bid’ah)
  • - dhal (sesat)
  • - kadzdzab (pendusta)
  • - mumawwih (pemalsu)
  • - mulabbis (penipu)
  • - ghairu mu’tamin ‘ala din (tidak amanah dalam agama)
  • - kanud (kufur nikmat)
  • - jahil (orang bodoh)
  • - halik (binasa)
  • - muta’ashshib (fanatik)
  • - azhim ul-ghaflah (sangat sembrono)
  • - thabl la yadri ma yakhruj min ra’sih (gendang yang tidak tahu apa yang keluar dari kepalanya)
  • - ka dhartati ‘air fi al-’ara (seperti ringkikan keledai liar di tanah lapang)
  • - fanzhuru ila iffatihi bal ufunatih (lihatlah kebersihannya bahkan kebusukan-kebusukannya)
  • - huwa akdzab min himari hadza (dia lebih dusta dari keledaiku ini)
  • - rafidhi mitslu al-himar (dia seorang rafidhi seperti keledai)
Dan masih terlalu banyak lagi ungkapan-ungkapan kotornya yang lain, yang itu menunjukan kerendahan akhlaknya dan ketidaklayakannya untuk diikuti dan diambil ilmu darinya. Lihatlah wahai para pembaca! sebenarnya dia sedang mempertontonkan aibnya sendiri!

Jika dia adalah pakar ulama hadits  (seperti klaim para pengikutnya), maka apakah layak dirinya dipercaya dalam menshahihkan dan mendha’ifkan hadits-hadits Nabi SAW? Seorang perawi hadits yang makan sambil berdiri atau duduk-duduk di pinggir jalan saja tidak boleh diterima hadits-haditsnya, apalagi ini, al-Albani yang gemar mencaci-maki (Apalagi dia sudah terbukti kecerobohannya dan kebohongannya).

Pantaskah ulama hadits berakhlaq seperti itu? Tidakkah dia mengamalkan hadits-hadits Nabi SAW tentang akhlaq yang dia riwayatkan sendiri? Nabi SAW bersaabda :
ليس المسلم بالسّباب ولا بالفاحش ولا البذي
“Bukan seorang muslim yang suka mencaci-maki, berkata kotor, ataupun mencela”